April 2020

Menstruasi merupakan proses pembersihan rahim terhadap pembuluh darah, kelenjar – kelenjar, dan sel – sel yang tidak terpakai karena tidak adanya pembuahan atau kehamilan. Proses menstruasi adalah peluruhan dinding rahim (endometrium) yang disertai dengan terjadinya perdarahan. Menstruasi merupakan hal yang alamiah bagi wanita yang sehat dan akan terjadi setelah seorang wanita telah tumbuh menjadi dewasa. Seorang wanita dewasa yang sehat dan normal akan mengalami 4 tahapan siklus menstruasi setiap periodenya. Sering masa menstruasi disebut sebagai masa haid. Bagaimana 4 tahapan siklus menstruasi tersebut? 

Siklus haid yang normal  berkisar antara 28 – 29 hari. Namun, masa menstruasi bervariasi bagi setiap wanita. Hampir 90% wanita memiliki siklus haid 25 – 35 hari, sekitar 10% – 15% yang memiliki siklus haid 28 hari, dan beberapa wanita memiliki siklus yang tidak teratur (kondisi haid yang tidak teratur dapat menjadi indikasi adanya masalah kesuburan). Pada umumnya, lama masa menstruasi berlangsung selama 3 – 7 hari.

Tahapan siklus menstruasi dalam siklus 28 hari dalam gambar diberikan seperti bagan berikut.

Siklus menstruasi terjadi dalam 4 tahapan yaitu,

  1. Fase pendarahan/menstruasi
  2. Fase folikuler/pra ovulasi
  3. Fase ovulasi
  4. Fase luteal/pasca ovulasi

Hari pertama pada fase menstruasi dihitung sebagai hari pertama siklus, pada umumnya selang waktu fase menstruasi adalah hari 1 sampai 5. Kemudian berlanjut ke siklus ke dua yang biasanya berlangsung hari 6 sampai 13. Selanjutnya ke fase ovulasi yaitu pada hari 14 terhitung dari hari pertama keluarnya darah menstruasi. Berikutnya ke fase terakhir dalam siklus menstruasi yaitu fase pasca ovulasi yang pada umumnya berlangsung pada hari 15 sampai 28.

Perubahan Bagian Sistem Reproduksi Wanita pada Siklus Menstruasi

Dalam sistem reproduksi wanita terdapat ovarium yang dapat menghasilkan ovum. Ovum terbungkus dalam kantung cairan atau yang disebut sebagai folikel. Folikel merupakan kantung cairan yang berisi oosit matang yang dapat berkembang menjadi sel telur.

Pada bagian sistem reproduksi wanita juga terdapat endometrium yaitu lapisan terdalam pada rahim dan tempatnya menempelnya ovum yang siap dibuahi. Jika ovum tidak dibuahi maka akan luruh menjadi darah atau yang biasa disebut dalam masa menstruasi. Jika ovum berhasil dibuahi oleh sel sperma maka akan terjadi kehamilan dan masa menstruasi tidak terjadi.

Terdapat beberapa hormon yang mempengaruhi terjadinya menstruasi yaitu hormon GnRH (Gonadotropin Releasing Hormone), FSH (Follicle Stimulating Hormone), LH (Luteinizing Hormone), estrogen, dan progesteron.

Jadi perubahan yang terjadi pada siklus menstruasi meliputi 

  • Folikel
  • Dinding endometrium
  • Tingkat hormon

Fase Menstruasi/Pendarahan

Hari pertama pada fase menstruasi menjadi patokan hari ke–1 dari siklus menstruasi. Pada umumnya, fase menstruasi rata – rata berlangsung selama 7 hari, ada yang mengalami kurang dari 7 hari dan ada pula yang mengalami lebih dari 7 hari (tetapi kurang dari 15 hari).Fase menstruasi terjadi jika sel ovum tidak dibuahi oleh sel sperma. Keadaan yang terjadi pada fase menstruasi adalah produksi hormon estrogen dan progesteron terhenti yang menyebabkan peluruhan dinding endometrium sehingga terjadi pendarahan atau yang kita sering kita kenal sebagai masa menstruasi. Jadi, darah yang didapati wanita dewasa pada saat menstruasi terjadi akibat peluruhan dinding endometrium.

Saat terjadi peluruhan dinding endometrium, ada sebuah lapisan dasar di balik lapisan yang terkikis. Kemudian akan membentuk lagi sebuah lapisan dinding baru di dalam rahim dan menebalkan dinding tersebut selama bulan berikutnya.

Kondisi folikel pada masa menstruasi berupa folikel primer yang akan berkembang dan masuk ke siklus selanjutnya. Proses ini akan diulang terus setiap bulannya di dalam rahim hingga masa menopause dan jika tidak terjadi kehamilan.

Fase Pra Ovulasi (Folikuler)

Pada fase pra ovulasi/folikuler terjadi proses sekresi hormon FSH oleh kelenjar hipofisis anterior. Pada saat fase folikuler ini, produksi FSH mengalami proses kenaikan. Di mana peran dari hormon FSH adalah mengubah folikel primer yang terbentuk pada tahapan sebelumnya menjadi folikel sekunder. Folikel sekunder yang terbentuk menyebabkan produksi hormon estrogen dan kemudian akan terjadi penebalan dinding endometrium.

Fase Ovulasi

Fase berikutnya dalam 4 tahapan siklus menstruasi adalah fase ovulasi. Pada fase ovulasi, hormon estrogen akan mempengaruhi hipofisis anterior untuk sekresi hormon LH yang berperan dalam memicu ovulasi untuk melepas oosit sekunder. Fase ovulasi merupakan tahapan di mana ovum (sel telur) siap dibuahi oleh sel sperma.

Fase Pasca Ovulasi (Luteal)

Tahapan yang terakhir adalah fase pasca ovulasi, pada fase ini terjadi pembentukan korpus luteum yang akan menghasilkan hormon progesteron. Hormon ini berperan dalam penebalan dinding endometrium. Sehingga, keadaan dinding endometrium akan semakin menebal. Jika terjadi pembuahan, dinding endometrium akan dipertahankan dan semakin menebal dan fase menstruasi tidak terjadi. Jika ovum tidak dibuahi maka akan terjadi peluruhan dinding endometrium dan terjadi menstruasi.

Penyebab Siklus Menstruasi yang Berbeda

Pada beberapa orang, siklus menstruasi mungkin akan terjadi perubahan dari satu siklus ke siklus berikutnya. Kondisi ini bisa jadi normal atau tidak normal, tergantung penyebab ketidaknormalan siklus menstruasi yang tidak teratur itu sendiri.

Contoh penyebab menstruasi tidak teratur atau tidak lancar yang bisa dialami oleh siapapun seperti:

  1. Terlalu lelah secara fisik
  2. Stress yang terlalu berlebihan
  3. Asupan nutrisi yang kurang atau tidak mencukupi kebutuhan
  4. Periode perimenopause (periode sebelum menopause terjadi)
  5. Penurunan berat badan yang sangat drastis
  6. Penggunaan kontrasepsi hormonal
  7. Ketidakseimbangan hormon dalam tubuh
  8. Gangguan kelenjar tiroid
  9. Gangguan organ reproduksi
  10. Obesitas
  11. Adanya infeksi pada organ reproduksi (Sumber :idschool.net)


SISTEM INDRA
INDRA PENGLIHATAN (MATA)
Susunan Anatomi Mata
Sklera adalah pembungkus lapisan terluar yang memiliki fungsi sebagai pelindung bola mata oleh kerusakan mekanis dan memungkinkan otot mata melotot.
Kornea adalah selaput bening yang tembus pandang dibagian depan sclera yang mempunyai fungsi untuk penerima rangsangan cahaya dan mereaksikan cahaya.
Koroidea adalah lapisan tengah diantara sklera serta retina berupa selaput darah (kecuali di bagian depan) yang memiliki fungsi sebagai penyedia makanan guna semua bagian mata lainnya.
Iris (selaput pelangi) adalah selaput berwarna yang terkandung pigmen melanin yang termasuk bagian depan koroidea.
Pupil adalah lubang yang dibatasi dari iris, yang memiliki fungsi untuk mengatur sedikit dan banyaknya cahaya yang dibutuhkan mata.
Lensa adalah bagian mata yang berwujud seperti lensa bikonveks yang memiliki fungsi untuk membiaskan serta memfokuskan cahaya, supaya bayangan dari benda tepat jatuh oleh bagian retina mata.
Aqueos humor adalah bagian mata berwujud cairan encer yang memiliki fungsi untuk menjaga kantong bagian depan bola mata.
Vitreous humor adalah bagian mata yang berwujud seperti cairan bening dan juga kental yang memiliki fungsi untuk meneruskan rangsangan menuju bagian mata, guna memperkukuh bola mata dari rangsangan yang ada.
Retina (selaput jala) adalah bagian mata yang berwujud seperti selaput jala, yang memiliki fungsi untuk menerima sebuah bayangan dan melihat benda.
Retina memiliki reseptor cahaya yang disebut dengan sel batang atau basilus dan juga sel kerucut atau konus.
Namun, untuk bagian retina belakang tidak memiliki kedua reseptor cahaya tersebut sehingga saat ada bayanan benda yang jatuh pada titik tersebut, maka tidak bisa dilihat oleh mata yang dinamakan dengan titik buta. Retina sendiri terdiri dari beberapa bagian lagi yaitu:
Cones atau kerucut: sel reseptor retina yang sensitif cahaya yang akan memberikan ketajaman visual dan juga warna yang paling banyak ada di daerah makula yang berfungsi pada saat cahaya yang diterima cukup banyak atau terang. Batang sel peka cahaya: Ini merupakan sel reseptor khusus yang bekerja di tingkat cahaya rendah atau untuk penglihatan malam. Fungsinya adalah akan memberikan gerakan dan kontras terang atau gelap sehingga bisa membuat visi periferal. Macula: Ini merupakan titik kuning yang ada di tengah berbentuk kecil yang mengelilingi fovea. Ini merupakan area penglihatan sentral akut yang dipakai untuk membaca serta membedakan detail serta warna yang halus. Fovea: Fovea merupakan lubang pusat yang ada di makula untuk menghasilkan penglihatan yang paling tajam dan mengandung cone konsentrasi tinggi pada makula yang tidak memiliki pembuluh darah retina (https://jagad.id/)
Badan silia adalah bagian mata yang memiliki fungsi menyokong lensa dan mensekresikan aqueso humor.
Bintik buta adalah bagian mata yang memiliki fungsi sebagai tempat saraf optik.
Sistem saraf pada manusia di bagian mata memiliki fungsi untuk meneruskan sebuah rangsangan cahaya yang ada.

PROSES MELIHAT
Proses pertama dari cara kerja indera penglihatan berawal dari pantulan cahaya yang berasal dari benda yang masuk ke dalam kornea. Cahaya tersebut akan ditangkap mata lalu diolah kembali oleh beberapa bagian mata sesuai dengan fungsinya masing masing. Informasi yang sudah didapat tersebut kemudian akan dikirim ke otak sehingga benda bisa terlihat. Berikut akan kami jelaskan urutan cara kerja indera penglihatan selengkapnya:

Cahaya akan dipantulkan benda yang sudah ditangkap mata lalu menembus kornea serta diteruskan ke pupil yang kemudian intensitas cahayanya akan diatur.
Cahaya akan diteruskan menembus lensa mata.
Daya akomodasi lensa mata akan mengatur supaya cahaya jatuh tepat pada bagian bintik kuningn.
Bintik kuning nantinya akan menerima cahaya lewat sel kerucut serta sel batang kemudian akan disampaikan ke otak.
Informasi kemudian akan diolah otak dan akhirnya kita bisa melihat wujud dari benda tersebut.

INDRA PEDENGARAN (TELINGA)

Indera Pendengar, Telinga, Telinga dalam, Telinga luar, Telinga tengah
Struktur Telinga
TELINGA
Telinga merupakan organ untuk pendengaran dan keseimbangan, yang terdiri dari telinga luar, telinga tengah dan telinga dalam.
Telinga luar menangkap gelombang Suara/Bunyi yang dirubah menjadi energi mekanis oleh telinga tengah.
Telinga tengah merubah energi mekanis menjadi gelombang saraf, yang kemudian dihantarkan ke otak.
Telinga dalam juga membantu menjaga keseimbangan tubuh.
Jadi telinga selain sebagai organ pendengaran juga sebagai organ keseimbangan

1. Telinga Luar
Telinga luar terdiri dari daun telinga (pinna atau aurikel) dan saluran telinga (meatus auditorius eksternus).
Telinga luar merupakan tulang rawan (kartilago) yang dilapisi oleh kulit, daun telinga kaku tetapi juga lentur.
Suara yang ditangkap oleh daun telinga mengalir melalui saluran telinga ke gendang telinga.
Gendang telinga adalah selaput tipis yang dilapisi oleh kulit, yang memisahkan telinga tengah dengan telinga luar.

2. Telinga Tengah
Telinga tengah terdiri dari gendang telinga (membran timpani) dan sebuah ruang kecil berisi udara yang memiliki 3 tulang kecil yang menghubungkan gendang telinga dengan telinga dalam. Maleus , Incus and Stapes ( Tulang Martil , Landasan dan Sanggurdi)
Ketiga tulang tersebut adalah:
Maleus (bentuknya seperti palu, melekat pada gendang telinga)
Inkus (menghugungkan maleus dan stapes)
Stapes (melekat pda jendela oval di pintu masuk ke telinga dalam).
Getaran dari gendang telinga diperkuat secara mekanik oleh tulang-tulang tersebut dan dihantarkan ke jendela oval.
Telinga tengah juga memiliki 2 otot yang kecil-kecil:
Otot tensor timpani (melekat pada maleus dan menjaga agar gendang telinga tetap menempel)
Otot stapedius (melekat pada stapes dan menstabilkan hubungan antara stapedius dengan jendela oval.
Jika telinga menerima suara yang keras,
Maka otot stapedius akan berkontraksi
Sehingga rangkaian tulang-tulang semakin kaku dan hanya sedikit suara yang dihantarkan.
Respon ini disebut refleks akustik, yang membantu melindungi telinga dalam yang rapuh dari kerusakan karena suara.
Tuba Eustachius / Saluran Eustachius adalah saluran kecil yang menghubungkan telinga tengah dengan hidung bagian belakang, yang memungkinkan masuknya udara luar ke dalam telinga tengah.
Tuba eustachius membuka ketika kita menelan, sehingga membantu menjaga tekanan udara yang sama pada kedua sisi gendang telinga,
Tuba Eustachius yang penting untuk fungsi pendengaran yang normal dan kenyamanan.

3. Telinga Dalam
Telinga dalam (labirin) adalah suatu struktur yang kompleks, yang terjdiri dari 2 bagian utama:
Koklea (organ pendengaran)
Kanalis semisirkuler (organ keseimbangan).
Koklea merupakan saluran berrongga yang berbentuk seperti rumah siput
Koklea terdiri dari cairan kental dan organ Corti
Organ Corti mengandung ribuan sel-sel kecil (sel rambut) yang memiliki rambut yang mengarah ke dalam cairan tersebut.
Rambut halus itu akan bergetar ketika ada gelombang yang menggetarkannya sehingga menimbulkan nada yang kemudian dikirim keotak
serabut syaraf yang menempal pada reseptor peka organ corti yang ada di koklea itu syaraf no 8 Neiron Auditory yang menghantarkannya ke otak besar bagian samping ( Lobus temporalis)

MEKANISME MENDENGAR
Getaran suara ditangkap oleh daun telinga
Getaran itu diteruskan saluran telinga luar dan menebabkan bergetarnya gendang telinga
Suara itu kemudian dihantarkan ke Tulang pendengaran ( maleus - inchus - stapes) yang ada di telinga tengah
Dari tulang stapes yang seperti garputala itu suara diteruskan ke jendela oval yang ada di telinga dalam
Dari Jendela oval suata diteruskan dan menyebabkan bergetarnya cairan dan sel rambut korti .
Sel korti inilah yang memberikan respon terhadap frekuensi suara yang berbeda dan merubahnya menjadi gelombang saraf.
Akhirnya suara itu di terima oleh syaraf auditori yang menempel pada organ korti suara ini lalu berjalan di sepanjang serat-serat saraf pendengaran yang akan membawanya ke otak.

Note
Walaupun ada perlindungan dari refleks akustik, tetapi suara yang gaduh bisa menyebabkan kerusakan pada sel rambut.
Jika sel rambut rusak, dia tidak akan tumbuh kembali.
Jika telinga terus menerus menerima suara keras maka bisa terjadi kerusakan sel rambut yang progresif dan berkurangnya pendengaran.

KERUSAKAN YANG SERING MUNCUL
Tuli saraf: disebabkan oleh kerusakan saraf auditori atau kerusakan pusat pendengaran di otak.
Tuli konduksi: disebabkan oleh kekakuan hubungan antara sanggurdi dengan fenestra ovalis, penyumbatan saluran telinga luar, penebalan atau kerusakan membran timpani, dan mungkin karena ada pengapuran atau kerusakan tulang-tulang pendengara

Kanalis semisirkuler merupakan 3 saluran yang berisi cairan, yang berfungsi membantu menjaga keseimbangan.
Setiap gerakan kepala menyebabkan ciaraSn di dalam saluran bergerak.
Gerakan cairan di salah satu saluran bisa lebih besar dari gerakan cairan di saluran lainnya; hal ini tergantung kepada arah pergerakan kepala.
Saluran ini juga mengandung sel rambut yang memberikan respon terhadap gerakan cairan.
Sel rambut ini memprakarsai gelombang saraf yang menyampaikan pesan ke otak, ke arah mana kepala bergerak, sehingga keseimbangan bisa dipertahankan.
Telinga mempunyai reseptor khusus untuk mengenali getaran bunyi dan untuk keseimbangan. Ada tiga bagian utama dari telinga manusia, yaitu bagian telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam.
Telinga luar berfungsi menangkap getaran bunyi, dan telinga tengah meneruskan getaran dari telinga luar ke telinga dalam. Reseptor yang ada pada telinga dalam akan menerima rarigsang bunyi dan mengirimkannya berupa impuls ke otak untuk diolah.

Jadi Telinga itu tersusun atas bagian-bagian telinga.
Telinga luar, terdiri atas daun telinga, saluran/lubang telinga, rambut-rambut halus, kelenjar minyak, dan membran tymphani
Telinga tengah, terdiri atas saluran Eustachius, jendela oval, jendela bundar, dan 3 tulang pendengaran, yaitu martil/maleus, landasan/incus dan sanggurdi/stapes.
Telinga dalam, terdiri atas koklea/rumah siput, 3 saluran setengah lingkaran, ampula, utrikulus dan sakulus.

Urutan Masuknya Getaran Suara pada Pendengaran Manusia:
Getaran suara-saluran telinga- membran timphani/ gendang telinga- tingkap oval-koklea- saraf auditorois- otak besar bagian samping

INDRA PERABA (KULIT)
Kulit merupakan indra peraba yang mempunyai reseptor khusus (Tango Reseptor)
P-T , K-D ,R-P , M -PRS
Pacini - Tekanan
Krause - Dingin
Rufini - Panas
Meisner - Perabaan dan Sentuhan


STRUKTUR KULIT

Kulit terdiri dari lapisan luar yang disebut epidermis dan lapisan dalam atau lapisan dermis.
EPIDERMIS
Pada epidermis tidak terdapat pembuluh darah dan sel saraf.
Epidermis tersusun atas empat lapis sel.
Dari bagian luar ke dalam , pertama adalah stratum korneum , stratum lusidum , stratum granulosum dan stratum germinativum berfungsi membentuk lapisan kulit sebelah atasnya.(mudahnya KLGG = Keluarga Lu Gila Gila)

2. Dermis
terdapat akar rambut,
otot penegak rambut,
kelenjar keringat,
kelenjar minyak,
jaringan adipose/lemak,
pembuluh darah,
sel saraf

Reseptor-reseptor (P-T , K - D , R - P , M - PRS )
Turgo reseptor dalam kulit ada bermacam-macam, yaitu sebagai berikut.
Korpuskula paccini, merupakan saraf perasa tekanan kuat.
Ujung saraf sekeliling rambut, merupakan saraf peraba.
Korpuskula ruffini, merupakan saraf perasa panas.
Ujung saraf krausse, merupakan saraf perasa dingin.
Korpuskula meissner, merupakan saraf perasa nyeri.
Ujung saraf tanpa selaput, merupakan saraf perasa nyeri.
Lempeng merkel, merupakan saraf perasa sentuhan dan tekanan ringan.
Reseptor-reseptor ini terdapat di dermis kulit.

Fungsi kulit antara lain:
Indra peraba
Menghasilkan keringat dan minyak
Melindungi tubuh dari sinar matahari
Melindungi otot dari gesekan benda luar

Beberapa reseptor yang ditemukan pada kulit sebagai berikut:
1. Paccini                     : Reseptor tekanan
2. Meisner                    : Reseptor peraba/ sentuhan
3. Crause                      : Reseptor dingin
4. Ruffini                     : Reseptor panas
5. Ujung saraf bebas    : Reseptor nyeri dan geli



INDRA PEMBAU (HIDUNG)


Hidung merupakan organ penciuman dan jalan utama keluar-masuknya udara dari dan ke paru-paru. Sebagai khemoreseptor karena ia mampu menerima rangsang zat kimia berupa gas mengingat organ hidung mempunyai rambut 2 halus yang berhubungan dengan ujung serabut syaraf olfactory dengan otak besar Hidung juga memberikan tambahan resonansi pada suara dan merupakan tempat bermuaranya sinus paranasalis dan saluran air mata. Hidung bagian atas terdiri dari tulang dan hidung bagian bawah terdiri dari tulang rawan (kartilago). Di dalam hidung terdapat rongga yang dipisahkan menjadi 2 rongga oleh septum, yang membentang dari lubang hidung sampai ke tenggorokan bagian belakang. Tulang yang disebut konka nasalis menonjol ke dalam rongga hidung, membentuk sejumlah lipatan.

Lipatan ini menyebabkan bertambah luasnya daerah permukaan yang dilalui udara. Rongga hidung dilapisi oleh selaput lendir dan pembuluh darah. Luasnya permukaan dan banyaknya pembuluh darah memungkinkan hidung menghangatkan dan melembabkan udara yang masuk dengan segera. Sel-sel pada selaput lendir menghasilkan lendir dan memiliki tonjolan-tonjolan kecil seperti rambut (silia). Biasanya kotoran yang masuk ke hidung ditangkap oleh lendir, lalu disapu oleh silia ke arah lobang hidung atau ke tenggorokan. Cara ini membantu membersihkan udara sebelum masuk ke dalam paru-paru.Hasil kotorannya jika mengering kita sebut " upil ". 

BERSIN dan BATUK
Bersin secara otomatis membersihkan saluran hidung sebagai respon terhadap iritasi,
Sedangkan batuk membersihkan paru-paru.
mekanisme penciuman bisa digambarkan sebagai berikut
Dirongga hidung bagian atas terdapat Neuroepitel olfaktorius didalamnya terdapat reseptor olfaktorius utama. Pada neonatus, daerah ini merupakan suatu lembar neural yang padat Namun pada anak-anak dan dewasa terbentuk interdigitasi antara jaringan respiratorius dan olfaktorius. Dengan bertambahnya usia seseorang, jumlah neuron olfaktorius ini lambat laun akan berkurang. Selain neuron olfaktorius, epitel ini juga tersusun oleh sel-sel penopang yaitu duktus dan glandula Bowman yang sifatnya unik pada epitel olfaktorius dan sel basal yang berfungsi pada regenerasi epitel.Sensasi pembauan diperantarai oleh stimulasi sel reseptor olfaktorius oleh bahan-bahan kimia yang mudah menguap. Untuk dapat menstimulasi reseptor olfaktorius, molekul yang terdapat dalam udara harus mengalir melalui rongga hidung dengan arus udara yang cukup turbulen dan bersentuhan dengan reseptor.

Faktor-faktor yang menentukan efektivitas stimulasi bau meliputi durasi, volume dan kecepatan menghirup.
Tiap sel reseptor olfaktorius merupakan neuron bipolar sensorik utama.
Dalam rongga hidung rata-rata terdapat lebih dari 100 juta reseptor.
Neuron olfaktorius bersifat unik karena secara terus menerus dihasilkan oleh sel-sel basal yang terletak dibawahnya.
Sel-sel reseptor baru dihasilkan kurang lebih setiap 30-60 hari.
Reseptor odorant termasuk bagian dari G-protein receptor superfamily yang berhubungan dengan adenilat siklase.

Manusia memiliki beratus-ratus reseptor olfaktorius yang berbeda, namun tiap neuron hanya mengekspresikan satu tipe reseptor.
Inilah yang mendasari dibuatnya peta pembauan (olfactory map).
Neuron yang menyerupai reseptor yang terdapat di epitel mengirimkan akson yang kemudian menyatu dalam akson gabungan pada fila olfaktoria didalam epitel.


INDRA PERASA (LIDAH)


Lidah adalah salah satu karunia terbesar Allah azza wa jalla kepada kita.
Tanpanya, kita tak akan sanggup merasakan enaknya makanan, berucap fasih, bernafas dengan normal.
Lidah adalah organ berotot yang memenuhi hampir seluruh mulut, utamanya saat gigi – geligi dalam kondisi beroklusi.

Permukaan dorsal lidah ditutupi oleh mukosa yang dibentuk oleh 4 jenis papilla, yaitu:
Papila Filiformis
Papila Fungiformis
Papilla Sircum Valata
Papila Foliata
Papila Filiformis
Papila yang terbanyak
Menutupi hampir sebagian besar permukaan dorsal
Bentuknya kecil
Keputih-putihan ( jumlah keratin )
Tonjolan berambut

Papila Fungiformis
Jumlah kurang sedikit
Bentuk seperti jamur
Kecil dan sedikit menonjol
Jelas pada tepi lateral ( lidah bagian samping)

Papilla Sircum Valata
Berukuran besar
Letaknya melingkar
Dikelilingi oleh fissur

Papila Foliata
Tidak mudah diidentifikasi
Seperti daun yang menonjol
Terdapat daerah dasar lidah
Pada tengah lidah terdapat cekungan dengan kedalaman yang bervariasi dinamaka sulcus median.

Ada juga organ dari lidah yang disebut frenulum lingualis terdapat pada permukaan ventral lidah.

Fungsi Lidah :
Hal ini sangat membantu dalam mendiagnosis dan penanganan penyakit atau gangguan lokal maupun sistemik yang menyerang lidah.
Menangkap makanan dengan membolak balik
Persepsi Makanan Penilaian yang sensitif terhadap temperatur panas dan dingin
Pengecapan
Respirasi
Perkembangan rahang




CONTOH PENELITIAN KUANTITATIF DALAM PENELITIAN SOSIAL
DAFTAR  ISI
KATA PENGANTAR----------------------------------------------------------------- 1
DAFTAR ISI---------------------------------------------------------------------------- 2
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang …………………………………………………………… 3
1.2 Rumusan Masalah………………………………...………………………. 3
1.3 Tujuan penelitian……………………………………...…………………... 3
1.4 Hipotesis kabut …………………………………………………………… 4
1.5 Operasional variabel………………………………………………………. 4
BAB II    METODE PENELITIAN
2.1 Jenis penelitian.………………………………………………………….… 4
2.2 Sampel ……………………………………………………….……………  4

BAB III LANDASAN TEORI……………………………...……….……...... 5
BAB IV HASIL PENELITIAN…………………………………………...…. 7
Bab IV Penutup
5.1 Kesimpulan……………………………………………………….……...…10
5.2 Saran………………………………………………………………..…........10
Daftar Pustaka……………………………………………………………….....11


BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
            Seperti yang kita ketahui,bahwasanya pelajar yang menginjak usia remaja lebih senang bergaul dengan kelompok mereka sendiri. Adapun dampak positif yang mereka dapat dengan mengikuti kelompok pergaulan.
             Namun sangat disayangan ,akhir akhir ini kelompok pergaulan tersebut mulai meresahkan para orang tua dan guru. Dikarenakan  salah pengartian “kesetiakawanan” yang sehingga sering sekali konflik timbul . Dan banyak sekali para remaja pelajar menjadi terobsesi dengan kelompok pergaulan untuk diakui oleh lingkungannya. Oleh karena itu,kami terdorong memilih kelompok pergaulan sebagai topik pada penelitian ini.

1.2 Rumusan masalah
1.Apa saja faktor yang mempengaruhi keikutsertaan diri pada kelompok pergaulan?
2.Apa saja dampak kelompok pergaulan terhadap pergaulan pelajar?

1.3 Tujuan Penelitian
1.Mengetahui faktor-faktor maraknya kelompok pergaulan baik berdampak positif maupun negatif
2.Mengetahui dampak yang ditimbulkan kelompok pergaulan terhadap pelajar tanah grogot

1.4  Hipotesis
Hipotesis kelompok kami dapat disimpulkan pada proposal ini terdiri dari 2 bagian yaitu sebagai berikut :
Ho          :    Tidak adanya pengaruh pengaruh Kelompok Pergaulan Terhadap Pelajar SMA /MA/Sederajat Tanah grogot


Hi           :    Adanya pengaruh pengaruh Kelompok Pergaulan Terhadap Pelajar SMA /MA/Sederajat Tanah grogot

1.5    Operasionalisasi Variabel
Variabel yang ada dalam Karya Tulis ini terbagi menjadi 2 variabel, yaitu :
-       Variabel Bebas       : Dampak kelompok pergaulan
-       Variabel Terikat     : Pelajar SMA /MA/Sederajat Tanah grogot


BAB II
LANDASAN TEORI


3.1  Pengertian Kelompok Pergaulan
Kelompok pergaulan adalah Chaplin (2006: 204) adalah unit sosial terdiri atas individu-individu yang diikat oleh minat atau suatu kepentingan yang sama. Geng dapat tersusun atas orang-orang dari sembarang usia, namun sangat umum terdapat di kalangan anak-anak atau pelajar
elizabeth B. Hurlock membagi pengelompokan sosial remaja dalam beberapa kategori, diantaranya[5]:

  1. Teman dekat, remaja biasanya mempunya dua atau tiga orang teman dekat atau sahabat karib. Teman dekat ini biasanya terbentuk antara anak dengan jenis kelamin yang sama.
  2. Kelompok kecil, biasanya terdiri dari kelompok teman-teman dekat. Pada mulanya terdiri dari teman yang sesama jenis, tetapi kemudian meliputi teman yang berlainan jenis.
  3. Kelompok besar, terdiri dari beberapa kelompok kecil dan teman dekat. Karena kelompok ini jumlah anggota kelompoknya besar, maka penyesuaian minat berkurang dan terdapat jarak sosial yang lebih besar diantara anggotanya.
  4. Kelompok yang terorganisir, kelompok yang dibina oleh kelompok dewasa dan dibentuk oleh sekolah dan organisasi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sosial.
  5. Kelompok geng, remaja yang tidak termasuk dalam kelompok besar dan merasa tidakpuas dengan kelompok organisasi mungkin akan mengikuti kelompok geng. Anggota geng biasanya terdiri dari anak-anak berjenis kelamin sama dan minat utama mereka adalah untuk menghadapi penolakan teman-temaan melalui perilaku antisosial

3.2 Faktor Terbentuknya Kelompok Pergaulan
1.   Adanya kesamaan latar belakang atau tujuan yang sama.
2.   Mencari popularitas, ingin lebih dikenal di kalangan teman sebaya.
3.   Mencari rasa aman dan terlindungi dalam suatu kelompok.
4.   Dalam kelompok menyediakan dukungan fisik, psikis, maupun sosial.
5.   Meningkatkan harga diri, percaya diri dan butuh akan pengakuan.

3.3 Dampak Terbentuknya Kelompok Pergaulan
1.   Menghasilkan kontrol yang kuat atas kehidupan banyak remaja.
2.   Lebih mengandalkan teman daripada orangtua.
3.   ”Stasiun penghubung” antara lepasnya ketergantungan terhadap orang tua pada masa kanak-kanak.[
4.   Pembatasan diri. Orang yang berbeda pendapat memutuskan untuk tidak berbicara daripada membuat permasalahan, melukai perasaan teman, atau mempermalukan diri
5.  Tekanan pada anak yang berbeda pendapat untuk melakukan konformitas. Kelompok mengolok dan memberi tekanan pada mereka yang berbeda pendapat untuk menaati aturan yang ada. Konformitas bisa negatif maupun positif.

BAB III
METODE PENELITIAN

Pada bagian ini, metode penelitian yang kami gunakan adalah metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan secara desrikptif dengan metode pertanyaan tertutup

2.1         Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang kelompok kami terapkan pada laporan hasil penelitian ini adalah jenis penelitian kuantitatif. Kami memilih jenis penelitian tersebut karena disebabkan jangka waktu yang kami miliki hanya sebentar sehingga tidak memungkinkan kami untuk menerapkan jenis penelitian kualitatif..

2.4         Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMA/MA/Sederajat di Tanah grogot secara acak .


BAB IV
HASIL PENELITIAN
4.1 ANGKET
1.Apakah anda memiliki kelompok pergaulan disekolah?
a. Ya                                       b.Tidak
2.Apakah anda mengikuti kelompok pergaulan untuk diakui?
a. Ya                                       b.Tidak
3.Apakah anda merasa terganggu dengan adanya kelompok pergaulan?
a. Ya                                       b.Tidak
4.Apakah ada keuntungan tersendiri bagi anda dalam kelompok pergaulan?
a. Ya                                       b.Tidak
5.Apakah menurut anda sebagian besar penyebab konflik disebabkan oleh kelompok pergaulan?
a. Ya                                       b.Tidak
6.Menurut anda apakah ada yang dirugikan dengan mengikuti kelompok pergaulan?
a. Ya                                       b.Tidak

JAWABAN
SOAL NOMOR
YA
TIDAK
1
20
28
2
2
46
3
17
31
4
25
23
5
30
18
6
19
29
JUMLAH
113
175

 Hasil analisa data dapat disajikan melalui tabel (kerjakan sendiri ya *contoh aja kok)


 BAB V
PENUTUP
5.1  KESIMPULAN
       Masih adanya kelompok pergaulan antar siswa yang berpengaruh terhadap pergaulan siswa terutama siswa SMA/MA/sederajat Tanah grogot yang sedikit banyak menimbulan pihak sekeliling lingkungan terganggu serta menjadi titik awal dari konflik.

5.2  SARAN
1.Berteman dengan siapa saja
 2.Tidak mudah terikut konflik kelompok karena hal kecil
 3.Mengurangi kegiatan diskriminasi individu/kelompok lain



DAFTAR PUSTAKA
https://id.wikipedia.org/wiki/Geng KLIK

http://fathwincha.blogspot.co.id/2013/01/fenomena-geng-remaja-dan-penyimpangan.html


Sumber : http://aldanicato.blogspot.com/



Sistem endokrim 
Selain oleh sisten saraf, tubuh kita juga diatur oleh sistem endokrin atau sistem hormon. Sistem Endokrin mengatur aktivitas tubuh dengan cara melepaskan atau menyekresi senyawa kimia yang dinamakan hormon. hormon dihasilkan dalam jumlah sedikit oleh kelenjar endokrin. kelenjar adalah sekelompok sel yang menghasilkan atau menyekresi suatu bahan yang berguna. kelenjar endokrin tidak memiliki saluran sehingga produknya(hormon) disekresi secara langsung ke aliran darah. hormon disekresi secara eksositosis ke dalam aliran darah dan beredar ke seluruh tubuh menuju organ-organ tertentu disebut organ sasaran. Tanggapan tubuh terhadap hormon lebih lambat dibandingkan dengan tanggapan tubuh terhadap rangsang saraf. Tanggapan tubuh terhadap hormon bergantung pada kecepatan sistem peredaran darah dan waktu yamg diperlukan sel-sel organ sasaran untuk mengubah aktivitas kimiawinya.Sistem endokrin pada tubuh manusia tersusun atas beberapa kelenjar endokrin. Tiap-tiap kelenjar menyekresi satu atau lebih hormon.

1. Kelenjar Hipofisis



    Kelenjar hipofisis atau sering disebut sebagai pituitari yang letaknya berada pada bagian bawah otak besar dengan bentuk tonjolan. Kelenjar tersebut terdiri dari bagian depan dan juga bagian belakang. Bagian-bagian ini akan memperoleh suatu hormon yang digunakan dalam membantu mengatur pertumbuhan, mengatur fungsi dari kelenjar gondok, mengatur kelenjar anak ginjal, dan yang terakhir mengatur kelenjar kelamin. Proses kerja pada kelenjar hipofisis sangat berkaitan erat dengan bagian hipotalamus. Kelenjar hipofisis nantinya akan mengatur aktivitas-aktivitas dari organ-organ tubuh bagian dalam seperti contohnya organ pencernaan dan juga organ kelamin. Kelenjar hipofisis akan memproduksi Hyroid stimulating hormone (TSH) yang nantinya akan membantu merangsang bagian kelenjar gondok. Kelenjar hipofisis juga memproduksi luteinizing hormone (LH) yang akan bisa membantu dalam proses pengeluaran sel telur dan juga hormon androgen yang terdapat pada pria. TSH dan LH akan disimpan dan juga sekaligus dikeluarkan oleh kelenjar hipofisis pada bagian depan. Kemudian hipotalamus akan memproduksi suatu hormon pelepasan dan menjadi salah satu faktor yang bisa menghambat. (https://dosenbiologi.com/manusia/sistem-hormon-pada-manusia)

    Nama Lain kelenjar hopofisis adalah kelenjar pituitari, juga disebut master gland karena mampu menghasilkan berbagai hormon yang berfungsi mengatur kelenjar hormon lainnya. Kelenjar ini berukuran sebesar butir kacang kapri itu terletak pada bagian dasar otak besar. kelenjar hipofisis dibagi menjadi menjadi tiga bagian(lobus) sebagai berikut:

a. Hipofisis Bagian Anterior
1). Somatotrophic Hormone (STH)
Hormon ini disebut hormon pertumbuhan (Growth hormone/GH) bertugas mengendalikan atau merangsang pertumbuhan rangka dan tubuh secara keseluruhan. Kekurangan hormon ini pada masa kanak-kanak mengakibatkan pertumbuhan terhambat atau kerdil (dwarfisme). Sedangkan kelebihan hormon ini pada masa kanak-kanak menyebabkan pertumbuhan raksasa (gigantisme). Kelebihan hormon somatotrofik pada orang dewasa yang menyebabkan akromegali, yaitu pertumbuhan yang tidak seimbangan pada tulang jari tangan, jari kaki, rahang atau tulang hidung.
2) Thyroid Stimulating Hormone (TSH)
Hormon ini berfungsi mengendalikan sekresi hormon tiroksim  oleh kelenjar tiroid. Kelebihan sekresi TSH akibat kekurangan yodium menyebabkan penyakit gondok.
3) Adrenocortiocotrophic Hormone (ACTH)
Memiliki fungsi utama merangsang korteks kelenjar adrenal untuk menyekresi hormon glukokortikoid. 
4) Follicle Stimulating Hormone (FSH)
FSH merangsang pertumbuhan dan perkembangan folikel-folikel di dalam ovari pada perempuan. Pada laki-laki , FSH berperan mengatur perkembangan testis dan merangsang proses spermatogenesis di dalamnya.
5) Luteinising Hormone (LH)
LH  pada perempuan berfungsi memengaruhi terjadinya ovulasi dan membentuk korpus loteum dari folikel di dalam ovarium. Peningkatan LH berkaitan dengan meningkatnya sekresi estrogen, pemasakan ovum, ovulasi dan pembentukan korpus luteum. Pada laki-laki, LH merangsang sel-sel interstisial (sel-sel Leydig) di dalam testis untuk menyekresi hormon kelamin jantan yaitu testosteron.
6) Prolaktin
Berperan merangsang sekresi air susu setelah melahirkan.

b. Hipofisis Bagian Intermediet
Menghasilkan hormon melanosit (Melanocyt stimulating hormone/ MSH). Sel- sel melanosit menghasilkan pigmen hitam melanin. Pada keadaan tertentu, misalnya hamil peningkatan sekresi MSH menyebabkan warna kulit menjadi sedikit lebih gelap.

c. Hipofisis Bagian Posterior
1). Oksitosin
Berperan merangsang kontraksi uterus pada saat melahirkan sehingga membantu pengeluaran janin.
2) ADH (Antidiuretic Hormone)
Mengatur pelepasan air  dari gimjal dengan membantu reabsorpsi air dari tubulus distal nefron. Kekurangan ADH menimbulkan penyakit diabetes insipidus yang ditandai dengan keluarnya urine secara berlebihan.
3) Vasopresin dan petresin
Berfungsi mempertinggi tekanan darah

2. Kelenjar Tiroid



    Disebut juga kelenjar gondok. Menghasilkan hormon tiroksin. Membebaskan tiroksim yang mengontrol seberapa cepat makanan diubah menjadi energi (Amelia Piliang:2013, hal.30). 

 Hormon
1. Tiroksin berfungsi dalam metabolisme sel, mempengaruhi pertumbuhan perkembangan dan diferensiasi jaringan
2. Calsitonin berfungsi metabolisme Ca & P

    Kelenjar tiroid seringkali disebut sebagai kelenjar gondok yang letaknya di bagian bawah jakun. Kelenjar tersebut akan memproduksi hormon tiroksin yang mempunyai peran dalam upaya mengatur tingkat kecepatan pada proses metabolisme. Laju dari pemakaian sari makanan dan juga pemakaian oksigen oleh sel merupakan suatu contoh yang sangat dipengaruhi hormon tiroksin. Hormon tiroksin juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan tubuh maupun mental. Hormon tiroksin hendaknya dalam kondisi dengan jumlah yang sesuai. Jika kelebihan hormon tiroksin (hipertiroidisme) yang akan ditandai dengan naiknya tingkat metabolisme, denyut jantung yang terasa lebih cepat dari biasanya, sangat mudah gugup, dan juga sering emosional.

    Sedangkan apabila kekurangan hormon tiroksin (hipotiroidisme), maka akan mengakibatkan terhentinya proses pertumbuhan. Hal semacam ini sangat buruk jika terjadi pada masa kecil karena akan berakibat atal yakni terjadinya kekerdilan. Penyakit tersebut dinamakan sebagai kretinisme. Berbeda lagi jika kekurangan tiroksin ketika sudah dewasa, maka akan mengakibatkan penurunan pada metabolisme dan juga aktivitas dari peredaran darah di seluruh tubuh. Pada kelenjar tiroid bisa mengalami proses pembesaran dengan ukuran 15 kali lipat dari ukuran normalnya yang sering dikenal dengan penyakit gondok. Penyakit yang disebabkan karena terjadi kekurangan asupan yodium dalam tubuh. (https://dosenbiologi.com/manusia/sistem-hormon-pada-manusia) 


3. Kelenjar Paratiroid



    Disebut juga kelenjar anak gondok Menghasilkan parathyroid hormone (PTH). Terletak di bawah kelenjar tiroid dan mengeluarkan parathormon. Hormon ini mengatur kadar kalsium di darah dan tulang (Amelia Piliang: 2013, hal 30).

    Kelenjar paratiroid seringkali disebut dengan kelenjar anak gondok yang mempunyai jumlah dua buah pasang dan juga menempel pada bagian belakang kelenjar tiroid. Kelenjar paratiroid memproduksi hormon parathormon. Fungsi dari hormon ini ialah untuk mengatur kadar dari kalsium yang terkandung dalam darah dan bisa juga digunakan untuk meningkatkan proses pelepasan kalsium itu sendiri dari bagian tulang. Selain itu, hormon parathormon bisa juga digunakan untuk meningkatkan proses penyerapan ulang pada kalsium yang terkandung dalam ginjal. Oleh sebab itu, jika seseorang mempunyai hormon parathormon yang berlebihan dalam tubuhnya, maka tulangnya akan mudah rapuh, lemah dan juga berwujud tidak normal karena disebabkan oleh kondisi kalsium yang rendah. Dengan kondisi semacam ini akan mengakibatkan sebagian dari kalsium bisa terbawa oleh air seni, kemudian akan terjadi pengendapan sehingga lama-kelamaan membentuk batu ginjal. Dan jika sebaliknya rendahnya kandungan kalsium yang berada dalam darah, maka bisa mengakibatkan kejang-kejang (https://dosenbiologi.com/manusia/sistem-hormon-pada-manusia)

4. Kelenjar Adrenalin



    Membebaskan adrenalin yang membuat jantungmu berdegup lebih kencang serta kamu bernapas lebih cepat. selain itu juga mengahasilkan aldosteron dan androgen yang memengaruhi pertumbuhan seorang pria (Amelia Piliang: 2013, hal 30). Adrenalin juga dikenal dengan hormon stress. Adrenalin adalah sebuah hormon yang memicu reaksi terhadap tekanan dan kecepatan gerak tubuh kita  (Amelia Piliang: 2013, hal 31).

    Bagian korteks , hormon kortison berfungsi mengatur metabolisme garam dan keseimbangan air. Bagian medula hormon adrenalin berfungsi memacu aktivitas jantung dan penyempitan pembuluh darah pada kulit dan membran mukosa, mengendurkan otot bronkioli, dan memacu glikogenolisis dalam sel hati (merubah glikogen menjadi glukosa)

    Kelenjar adrenal seringkali disebut sebagai kelenjar anak ginjal yang letaknya berada pada bagian ujung katup di setiap ginjal. Dampaknya, kelenjar ini dinamakan sebagai kelenjar suprarenalis dan biasanya mempunyai bentuk gepeng serupa dengan piramida. Susunan dari kelenjar adrenal terdiri dari bagian luar (korteks) yang mempunyai warna kuning yang memproduksi hormon kortison, dan juga bagian dalam (medula) yang mempunyai warna coklat yang dapat memproduksi hormon adrenalin. Hormon adrenalin bisa berpengaruh pada denyut jantung, tekanan darah, meningkatnya kadar gula dalam darah, dan juga bisa mempercepat proses pernafasan. Proses percepatan yang terjadi pada pernafasan tersebut akan dilakukan melalui cara yakni memperlebarnya jalan dari udara. Apabila bagian tubuh kita mengalami kekurangan terhadap hormon adrenalin yang ada, maka seseorang akan menderita penyakit yang dinamakan addison yang bisa ditandai dengan kondisi bercak-bercak merah yang timbul pada kulit (https://dosenbiologi.com/manusia/sistem-hormon-pada-manusia)

5. Kelenjar Pankreas




    Mengeluarkan insulin dan glukagon yang mengatur kadar gula dalam darah (Amelia Piliang: 2013, hal 30). Hormon insulin dan glukagon mengatur kadar gula darah. 

    Kelenjar pankreas akan memproduksi getah pankreas yang mempunyai kandungan enzim di dalamnya. Kelenjar pankreas juga memproduksi hormon insulin dan glukagon. Apabila makanan sudah masuk pada bagian tubuh kita, maka akan diolah dan juga dicerna hingga menjadi gula yang berwujud glukosa. Kemudian glukosa akan masuk ke bagian aliran darah sehingga kadar glukosa yang terkandung di dalam dara akan meningkat. Jika jumlah glukosa yang terkandung dalam tubuh terlalu tinggi, maka pankreas akan menghasilkan hormon insulin. Hormon tersebut akan membantu mempercepat dalam membantu proses pengubahan glukosa sampai menjadi gula, otot atau pun glikogen. Dampak dari proses pengubahan tersebut, maka kadar gula yang terkandung di dalam darah akan mengalami penurunan. (https://dosenbiologi.com/manusia/sistem-hormon-pada-manusia)

KELENJAR KELAMIN
    Kelenjar kelamin yang seringkali disebut kelenjar gonad akan diproduksi saat sesorang menginjak usia remaja. Hormon yang diproduksi oleh kelenjar ini dinamakan sebagai hormon gonadotropik.

6. Kelenjar Ovarium

    Membebaskan progesteron dan estrogen pada saat seorang wanita mengalami pubertas. Hormon ini juga mengontrol siklus menstruasi dan kehamilan (Amelia Piliang: 2013, hal 30). Hormon estrogen berfungsi memberikan ciri-ciri sekunder wanita. Progesteron berfungsi memelihara pertumbuhan jaringan mukosa pada uterus. 

    Kelamin yang ada pada wanita dinamakan sebagai ovarium yang nantinya akan memproduksi hormon estrogen yang memiliki fungsi dalam mengatur proses perkembangan pada bagian sel-sel kelamin pada wanita. Hormon ini juga memiliki fungsi lain dalam mengatur suatu proses perkembangan pada organ seks yang bersifat sekunder. Hal ini bisa dilihat pada proses pertumbuhan yang terjadi pada payudara, terjadinya pembesaran pada bagian pinggul, dan perubahan yang ada pada suara. Selain itu, ternyata ovarium juga memproduksi hormon progesteron yang memiliki fungsi dalam mengatur proses pertumbuhan pada bagian plasenta dan juga merangsang proses pembentukan air susu pada wanita. (https://dosenbiologi.com/manusia/sistem-hormon-pada-manusia)

7. Kelenjar Testis



    Membebaskan Testosteron pada saat seorang pria mengalami pubertas sehingga terjadi perubahan pada tubuhnya .

Tentunya kelenjar yang dimiliki oleh kelamin pria tidak akan sama dengan kelenjar yang dimiliki oleh kelamin wanita. Jika pada pria dinamakan testis yang akan memproduksi hormon testosteron yang memiliki fungsi dalam mengatur suatu proses perkembangan sel kelamin. Hormon tersebut juga akan mengatur suatu proses perkembangan seks yang bersifat sekunder yang bisa dilihat dari perubahan suara yang ditimbulkan, pertumbuhan pada kumis, rambut pada bagian ketiak, dan juga rambut pada bagian kaki. ( https://dosenbiologi.com/manusia/sistem-hormon-pada-manusia)

8. Kelenjar Timus

Hormon somatotrof berfungsi mempengaruhi pertumbuhan. 
    Awal mula dicetuskannya kata timus yakni mengambil dari bahasa Yunani yang dapat didefinisikan sebagai jiwa, hati, keinginan atau pun juga kehidupan. Kelenjar timus mempunyai peran yang sangat penting untuk bertanggung jawab pada proses pertumbuhan terhadap manusia. Kelenjar timus seringkali mempunyai dua buah lobus yang letaknya pada bagian atas dari tulang dada. Pada setiap bagian lobus terdiri dari dua bagian yakni bagian korteks dan bagian medula. Bagian korteks terbentuk dari sel-sel limfosit dan juga sel-sel epitel. Sedangkan medula terbentuk dari sel-sel epitel. Kelenjar timus akan menghasilkan hormon yang memiliki peran dalam proses pematangan pada sel limfosit T. Apabila terjadi kekurangan kelenjar timus, maka kemungkinan besar akan mengalami kretinisme atau sering dikenal dengan kekerdilan. Sedangkan jika terjadi kelebihan kelenjar timus, maka bisa jadi akan mengalami gigantisme atau sering dikenal dengan raksasa (https://dosenbiologi.com/manusia/sistem-hormon-pada-manusia)

9. Kelenjar Pencernaan 




Lambung
Hormon gastrin fungsinya memacu sekresi getah lambung

Uusus 12 Jari (duodenum)
1. Sekretin fungsinya merangsang pengeluaran getah pankreas
2. Kolesitokinin fungsinya merangsang pengeluaran getah empedu


    Proses pencernaan terdiri dari semua proses dimana makanan yang masuk ke dalam tubuh akan disederhanakan sehingga zat-zat gizi yang terkandung dalam makanan akan terserap secara sempurna oleh anggota tubuh. Pada sistem pencernaan makanan yang ada pada manusia terdiri dari saluran pencernaan dan juga kelenjar pencernaan. Saluran percernaan sendiri diawali dari bagian rongga mulut, hulu kerongkongan, kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar, dan akan berakhir di bagian anus. Kelenjar pencernaan meliputi kelenjar ludah, kelenjar lambung, kelenjar usus, kelenjar hati dan juga kelenjar pankreas. (https://dosenbiologi.com/manusia/sistem-hormon-pada-manusia).





MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget